Harga Jeruk Siem Madu Dau Melonjak, Petani Mulai Bangkit

Jeruk Siem Madu, andalan pertanian Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. (dik)
Jeruk Siem Madu, andalan pertanian Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. (dik)

Malang, HaloApaKabarcom — Senyum kembali tersungging di wajah para petani jeruk di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Usai berbulan-bulan tertekan oleh harga jual yang terjun bebas, komoditas unggulan lokal yakni jeruk siem madu kini mencatatkan tren kenaikan harga yang signifikan di tingkat produsen.

​Bidin, seorang petani jeruk asal Dusun Banjar Tengah, menuturkan bahwa harga kulak jeruk siem saat ini telah menembus angka Rp15.000 per kilogram. Angka ini melompat jauh jika dibandingkan dengan masa panen raya beberapa waktu lalu. Dimana harga jualnya sempat anjlok hingga Rp8.500 per kilogram.

​”Dengan harga waktu panen raya Rp8.500, kami mengalami kerugian karena tidak sepadan dengan biaya operasional untuk memberikan pupuk dan biaya perawatan,” kabar Bidin menceritakan masa-masa sulit yang baru saja mereka lalui.

Para Petani Memprediksi Kenaikan Harga ​Diproyeksikan Bakal Mendaki Lagi Mulai Bulan Desember 2026

Kenaikan harga ini diperkirakan tidak bersifat sementara karena para petani memprediksi tren positif tersebut akan bertahan setidaknya hingga bulan November mendatang. ​Bahkan, kurva harga diproyeksikan bakal kembali mendaki pada bulan Desember hingga awal tahun 2027. Lonjakan lanjutan ini tak lepas dari hukum pasar, di mana ketersediaan stok buah di kebun-kebun warga kian menipis seiring bergesernya musim.

​”Bisa jadi nanti mulai akhir tahun sampai awal tahun depan tambah naik lagi karena di kebun sudah semakin menipis,” tambahnya.

Secara umum, siklus panen tanaman jeruk di kawasan sentra jeruk Kecamatan Dau ini berlangsung satu kali dalam setahun. Kendati demikian, sejumlah petani kerap mendapatkan kesempatan panen hingga dua kali. Ini akibat dari adanya variasi waktu pembungaan pada beberapa pohon.

“Dalam kondisi normal, produktivitas kebun dapat menghasilkan sekitar 3 ton buah per 100 pohon. Namun bisa menyusut menjadi 2 ton per 100 pohon apabila ada kendala cuaca ekstrem atau perawatan yang kurang,” imbuhnya.

​Meski angin segar telah berhembus lewat kenaikan harga ini, Bidin menegaskan bahwa keuntungan yang diperoleh belum sepenuhnya bisa dinikmati secara leluasa. Sebagian besar hasil penjualan tersebut harus dialokasikan untuk melunasi kerugian musim lalu.

“Termasuk untuk menutupi biaya operasional perawatan kebun saat menyambut musim panen berikutnya,” pungkasnya. (dik)

Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *