Dari Covid-19 Jadi Berkah, Jamu Sugih Waras Tembus Omzet Jutaan Rupiah

Jamu Sugih Waras mengikuti pameran produk UMKM di Matos.
Jamu Sugih Waras mengikuti pameran produk UMKM di Matos. (rhd)

Malang, HaloApaKabar.com – Siapa sangka dari musibah menjadi berkah, pandemi covid-19 menjadi berkah Suliati membangun usaha minuman tradisional Jamu Sugih Waras. Berawal berbagi sedekah berupa jamu kepada warga, usaha produk jamu rumahan itu kini berkembang menghasilkan omzet jutaan rupiah setiap bulan.

Owner Jamu Sugih Waras, Suliati mengabarkan, profesi sebelumnya sebagai perias pengantin. Namun, pandemi covid-19 membuat pekerjaannya terhenti, karena hampir tidak ada acara pernikahan yang digelar.

“Ketika pandemi, niat saya membuat minuman berbahan rempah untuk berbagi sebagai ikhtiar sehat kepada orang lain. Saya memang pecinta minuman rempah dan sering membuatkan jamu untuk kebutuhan di pondok pesantren dekat rumah,” kabar warga Kalisongo tersebut.

Saat pandemi, Suliati mendapatkan arahan dari seorang Kyai di Ponpes tersebut untuk membuat jamu dan membagikannya kepada warga sekitar. Hal itu mengingat banyaknya orang yang mudah sakit saat pandemi covid-19 melanda Indonesia.

“Saya diperintah oleh kyai di pondok dekat rumah untuk membuat jamu dan diberikan kepada orang-orang kampung sekitar. Tidak usah mikir dibayar atau tidak,” ceritanya.

Setiap hari, ia membuat sekitar dua panci jamu. Racikan tersebut kemudian dibagikan kepada warga dan cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar dua RT.

“Awalnya saya membuat jamu tidak untuk bisnis. Kalau ada warga yang memberikan uang, saya terima. Tapi, kalau tidak ada yang membayar, saya tetap membagikan jamu sesuai amanah dari Kyai saya,” terangnya.

Belajar Herbal Lebih Dalam di Yogyakarta, Jember, dan Kediri

Setelah pandemi Covid-19 berakhir dan aktivitas masyarakat mulai pulih, racikan jamu Suliati justru semakin banyak diminati. Sejumlah orang yang pernah mencicipinya memberikan respons positif dan menilai jamu tersebut cocok bagi mereka.

“Dari situlah muncul keinginan untuk memperdalam pengetahuan tentang dunia herbal. Saya sampai ikut sejumlah kelas herbal di Yogyakarta, Jember sampai Kediri,” lanjutnya.

Menurutnya, belajar herbal tidak hanya soal mencampurkan berbagai bahan menjadi jamu. Ia juga mempelajari fungsi, manfaat, karakteristik hingga cara pengolahan bahan herbal agar racikan yang dibuat tepat.

“Saya ambil kelas herbal bukan hanya untuk mempelajari cara meracik, tetapi juga mengenal herbal itu sendiri. Fungsinya apa, manfaatnya apa, bagaimana cara pengolahan yang benar supaya ketika meracik tidak ada kontradiksi,” tuturnya.

Dari Dapur Rumah Menjadi Usaha Jamu Segar

Usaha Jamu Sugih Waras kemudian berjalan dari dapur rumah. Pesanan mulai berdatangan untuk berbagai kegiatan dan acara di Malang. Suliati menyediakan racikan jamu segar yang langsung dibuat dalam pitcher sesuai pesanan.

Meski harus membagi waktu dengan pekerjaan sebagai perias, ia tetap menekuni usaha tersebut. Pesanan bahkan bisa mencapai beberapa pitcher dalam satu acara.

Jamu racikan Suliati juga sempat disajikan dalam sejumlah kegiatan di Ponpes yang dihadiri sejumlah tokoh. Ia menyebut, beberapa tokoh pernah mengonsumsi racikannya, seperti Khofifah Indar Parawansa, Emil Dardak, keluarga Presiden Joko Widodo, hingga kepala daerah di Malang.

“Seiring berkembangnya usaha, saya berpikir bagaimana cara untuk produk Jamu Sugih Waras bisa dibawa ke luar kota. Apalagi, selama ini jamu racikan saya masih berupa jamu segar yang diracik untuk langsung diminum,” ujarnya.

Mengembangkan Teh Herbal: Empat Varian untuk Kesehatan

Dari kebutuhan tersebut, ia kemudian mengembangkan produk teh herbal. Salah satu produk yang pertama kali dikembangkan adalah teh dengan racikan yang ditujukan untuk membantu menjaga kadar kolesterol.

Pengembangan produk itu dilakukan melalui proses eksperimen selama sekitar enam bulan bersama keluarganya. Suliati mencoba berbagai teknik dan cara, mulai dari proses pengeringan bahan, tekstur, pemilihan kantung teh hingga takaran atau gramasi.

“Sekarang, Jamu Sugih Waras sudah mempunyai empat varian teh herbal. Ada teh untuk imun, teh asam lambung, teh kolesterol dan Teh Anjani khusus untuk perempuan,” bebernya.

Perjalanan Suliati membangun usaha tersebut semakin berkembang setelah Jamu Sugih Waras masuk dalam kurasi UMKM binaan Bank Indonesia (BI). Menurutnya, kesempatan tersebut semakin membuka ruang bagi produknya untuk dikenal masyarakat.

“Dari yang awalnya dibagikan gratis, sekarang alhamdulillah bisa menjadi usaha. Saat ini minimal omzet sekitar Rp2 juta per bulan,” pungkasnya. (rhd)

Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *