Denpasar, HaloApaKabar.com – Perum Jasa Tirta I (PJT I) siap mengelola sumber daya air terpadu dan berkelanjutan di Wilayah Sungai (WS) Bali-Penida. Sebagai implementasi Keppres RI Nomor 9 Tahun 2026 sebagai pelaksana/penugasan pengelolaan WS Bali-Penida.
Direktur Operasional PJT I, Milfan Rantawi mengabarkan, penugasan dilaksanakan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres RI) Nomor 9 Tahun 2026 yang diterbitkan 22 April 2026.
“Kehadiran PJT I di WS Bali-Penida ini menjadi bagian upaya memperkuat pengelolaan sumber daya air terpadu dan berkelanjutan. Serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan perkembangan perekonomian di Bali,” kabar Milfan, Kamis (20/8/2026).
Sebagai bagian dari tahapan awal pelaksanaan penugasan, pihaknya bersama Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA). Menyelenggarakan Sosialisasi Keppres Nomor 9 Tahun 2026 untuk WS Bali-Penida pada 30 Juni 2026, sebagai momentum memperkenalkan tugas dan peran PJT I.
“Sekaligus membangun koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida, pemerintah daerah, pengguna SDA, masyarakat, serta pemangku kepentingan lainnya,” imbuhnya.
Tantangan Hidrologis di Zona Sarbagita

VP Regional III PJT I, Didik Ardianto mengungkapkan, pengelolaan sumber daya air di WS Bali-Penida menghadapi tantangan hidrologis yang signifikan. Hal itu terjadi akibat fluktuasi ketersediaan air antara musim penghujan dan kemarau, khususnya di Zona Sarbagita, yakni Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan.
“Pada musim penghujan, curah hujan tahunan mencapai lebih 2.000 mm, sehingga seringkali menyebabkan surplus aliran permukaan pemicu banjir di beberapa wilayah. Kondisi ini menjadi semakin kompleks dengan adanya peningkatan laju alih fungsi lahan. Dampaknya, terjadi peningkatan sedimentasi dan instabilitas lahan yang mempengaruhi kapasitas drainase alami sungai,” terang Didik.
Sementara memasuki musim kemarau, tantangan beralih pada defisit neraca air yang tersebar di hampir seluruh zona di WS Bali-Penida. Dengan tekanan terbesar berada di Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan (Zona Sarbagita).
“Pada Zona Sarbagita mengalami kekurangan air signifikan untuk pemenuhan kebutuhan domestik dan industri,” tuturnya.
Menjawab tantangan tersebut, salah satu kegiatan pengelolaan SDA akan dilaksanakan oleh PJT I pada tahap awal penugasan. Yakni dengan penguatan sistem hidrometeorologi melalui implementasi Smart Water Management System (SWMS).
“Sistem tersebut digunakan untuk melakukan pemantauan dan prediksi hujan dan debit, sehingga nantinya diharapkan menjadi decision support system yang baik. Khususnya bagi seluruh stakeholder pengelolaan SDA di WS Bali-Penida, sebagaimana telah diimplementasikan oleh PJT I di lima wilayah kerja sebelumnya,” tandasnya.
PJT I Bawa Pengalaman Pengelolaan 5 Wilayah Sungai Eksisting
Kepala Divisi Jasa Air dan Sumber Air WS Bali-Penida PJT I, Hamim Ghufroni mengatakan, PJT I siap membawa pengalaman pengelolaan lima wilayah sungai eksisting mendukung pelaksanaan penugasan di WS Bali-Penida. Salah satu fokus yang akan diperkuat adalah sistem informasi SDA melalui pengembangan SWMS dan pemanfaatan teknologi telemetri.
PJT I akan memperkuat kolaborasi dengan Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA), BWS Bali-Penida, Pemerintah Provinsi Bali, pemerintah kabupaten/kota, serta pemangku kepentingan lainnya. Kolaborasi tersebut diperlukan untuk memastikan pengelolaan SDA dapat berjalan secara terpadu dan sesuai kebutuhan wilayah.
“Kami akan saling bahu-membahu, berkolaborasi dengan stakeholder terkait untuk pengelolaan SDA di WS Bali-Penida. Untuk pemenuhan air baku, PJT I akan berupaya seoptimal mungkin seperti yang dilakukan di lima WS existing,” jelas Hamim.
Dalam menjalankan penugasan tersebut, PJT I mengacu pada lima pilar pengelolaan sumber daya air, yaitu:
- konservasi,
- pendayagunaan,
- pengendalian daya rusak air,
- pengembangan sistem informasi sumber daya air, serta
- pemberdayaan dan peran serta masyarakat.
“Berbekal pengalaman selama 36 tahun dalam pengelolaan sumber daya air, PJT I akan membawa kompetensi dan pengalaman operasional. Serta sistem pengelolaan yang telah dikembangkan perusahaan untuk mendukung pelaksanaan tugas di WS Bali-Penida,” tegas Hamim.
Pengelolaan WS Bali-Penida Penuhi Kebutuhan Air Masyarakat, Industri hingga Pariwisata
Kebutuhan air baku menjadi salah satu perhatian dalam pengelolaan WS Bali-Penida seiring dengan pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi di Bali. Air baku yang dikelola dan dimanfaatkan PJT I akan turut mendukung kebutuhan masyarakat, industri, hingga sektor pariwisata.
“Kehadiran PJT I di WS Bali-Penida menjadi bagian komitmen perusahaan dalam mendukung penguatan ketahanan air nasional. Melalui pengelolaan yang terpadu dan kolaboratif, sumber daya air di Bali diharapkan dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat. Dalam mendukung keberlanjutan lingkungan dan aktivitas ekonomi, serta menjaga keseimbangan antara kebutuhan air dan daya dukung wilayah,” beber Hamim.
Selain pemenuhan kebutuhan air, PJT I juga akan mendorong upaya konservasi untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air. Konservasi menjadi penting untuk mempertahankan tutupan lahan, mencegah bertambahnya lahan kritis, serta meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap air hujan.
“Kegiatan konservasi tentunya juga perlu kita galakkan supaya lahan kritis tidak bertambah. Air hujan yang turun tidak langsung mengalir ke sungai kemudian ke laut, tetapi semakin banyak yang diserap ke tanah dan menjadi imbuhan air,” pungkas Hamim. (rhd)






