Malang, HaloApaKabar.com – Bedah buku ‘Dari Rimba Menjadi Kota: Bank Indonesia dalam Evolusi Malang Raya’ menggambarkan sejarah perjalanan bank pemerintah Belanda hingga menjadi Bank Indonesia. Dari sebuah kawasan yang semula banyak tertutup hutan rimba menjadi kawasan perekonomian terkemuka di Jawa Timur.
Salah satu penulis buku, Dr. R. Reza Hudiyanto SS MHum mengabarkan, buku ini menggambarkan proses evolusi perekonomian wilayah Malang. Cukup menarik bagi pencinta sejarah, mahasiswa, pegiat literasi, awak media dan siapa pun yang penasaran dengan jejak Malang Raya dan Bank Indonesia Malang.
“Secara khusus, buku ini mengungkap peran De Javasche Bank (DJB) Agentschap Malang, setelah terjadi nasionalisasi diteruskan tongkat estafetnya oleh Bank Indonesia Malang. Secara temporal lingkup kajian buku ini mencakup rentang waktu yang panjang, sejak sekitar 1800 hingga 2019,” kabar Reza, sapaan penulis bab 4-5 buku tersebut.
Identifikasi Buku: Dari Rimba Menjadi Kota: Bank Indonesia dalam Evolusi Malang Raya
Buku ‘Dari Rimba Menjadi Kota: Bank Indonesia dalam Evolusi Malang Raya’ diterbitkan oleh Bank Indonesia Institute dan dicetak tahun 2020. Dengan tim penyusun di antaranya: Arlyana Abubakar, Rita Krisdiana, R. Reza Hudiyanto, Handinoto, Siti Senorita Pratiningrum, Ratu Humairoh Balqis, Allan Akbar dan Mirza Ardi Wibawa.
Editor oleh Nawiyanto, dengan para kontributor: Usep Sukarya, Guruh Suryani Rokhimah, Satyani Oktaviningsih, Ginisita Dofany, Sintya Aprina.
Cetakan pertama berisi i-xxviii + 452 halaman, berdimensi 14,5 x 20,5 sentimeter. Dengan nomor ISBN: 978-623-90661-5-4.
Sekilas Isi Buku: Dari Rimba Menjadi Kota: Bank Indonesia dalam Evolusi Malang Raya
Buku dengan 7 bab ini menguraikan heritage Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang dan menjadi saksi semua aktivitas yang dilakukan DJB dan BI Malang. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya sejak masa kolonial hingga masa kontemporer.
“Keberadaan gedung heritage BI Malang yang masih bertahan hingga kini bagaikan gerbang wisata lorong waktu. Dengan membayangkan peristiwa-peristiwa sejarah dan reservoir kearifan masa lalu untuk menjawab permasalahan dan tantangan masa depan,” terang dosen prodi Ilmu Sejarah Universitas Negeri Malang (UM) ini.
Data primer buku ini diperoleh dari koleksi arsip Bank Indonesia Kantor Perwakilan Wilayah (KPwBI) Malang maupun arsip yang tersimpan di Kantor Pusat Bank Indonesia di Jakarta. Sumber primer menjadi bahan rujukan berupa data statistik kolonial, surat kabar dan majalah sezaman. Baik yang terbit pada masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, maupun masa kemerdekaan.
Bahan-bahan rujukan ini diperoleh dari berbagai institusi kearsipan dan perpustakaan yang tersebar di Jakarta, Surabaya, dan Malang. Sedangkan rujukan sumber sekunder meliputi berbagai buku, artikel, dan laporan hasil penelitian yang relevan dengan subyek yang dibahas dalam buku ini.
“Bahan-bahan sekunder ini diperoleh dari sejumlah institusi yang berbeda, termasuk Perpustakaan Bank Indonesia Institute dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Keduanya berlokasi di Jakarta, serta berbagai institusi kearsipan dan perpustakaan di Malang dan Surabaya,” sebut Reza.
7 Bab Buku: Dari Rimba Menjadi Kota: Bank Indonesia dalam Evolusi Malang Raya

Buku ini terdiri atas tujuh bab, selain prolog dan epilog.
- Bab 1, membentangkan panggung bagi uraian bab-bab selanjutnya melalui gambaran tentang aspek ekologis dan administratif-kewilayahan, perkembangan masyarakat, transaksi ekonomi dan peredaran uang dalam rentang waktu hingga 1870.
- Bab 2, menguraikan perkembangan perkebunan di kawasan Malang, terbentuknya Gemeente Malang, pendirian De Javasche Bank Agenschap Malang dan peranannya dalam mengawal sektor perkebunan, termasuk saat terjadi guncangan krisis ekonomi 1930-an.
- Bab 3, membahas pendudukan Jepang atas wilayah Malang dan implikasi kebijakan yang dijalankan Jepang di kawasan Malang secara politik, sosial-ekonomi dan finansial.
- Bab 4, menguraikan respons kekuatan lokal atas peristiwa proklamasi, pemulihan kembali tatanan kolonial, upaya menghadirkan kembali institusi De Javasche Bank dan fungsinya, kekacauan keuangan, blokade Belanda dan berbagai upaya membiayai revolusi.
- Bab 5, mengkaji proses nasionalisasi De Javasche Bank sebagai embrio Bank Indonesia, institusionalisasi Bank Indonesia sebagai pilar dalam merealisasikan kedaulatan ekonomi, dan rehabilitasi perekonomian kawasan Malang pasca pengakuan kedaulatan.
- Bab 6, memaparkan evolusi kelembagaan Bank Indonesia, perubahan struktur perekonomian daerah Malang, dan peran yang dimainkan Bank Indonesia Malang dalam mengawal perekonomian daerah selama periode Orde Baru dan Reformasi.
- Bab 7, uraian difokuskan secara khusus pada heritage Kantor eks-De Javasche Bank Malang dalam konteks perkembangan tata Kota Malang, gaya arsitektur kolonial, pemanfaatan gedung eks-DJB Malang dan upaya pelestariannya.
Pada bagian epilog disajikan kesimpulan sekaligus merupakan refleksi singkat atas keseluruhan pembahasan yang telah disajikan.
Apresiasi Komunitas pada Buku: Dari Rimba Menjadi Kota: Bank Indonesia dalam Evolusi Malang Raya
Koordinator Gerakan Literasi Balaikota Menulis, R. Agung Harjaya Buana SE MSE mengapresiasi, keberadaan buku: Dari Rimba Menjadi Kota: Bank Indonesia dalam Evolusi Malang Raya. Meski kali pertama dibedah sejak diterbitkan tahun 2020, namun mampu menjadi rujukan literasi, khususnya keberadaan gedung heritage Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang.
“Gedung Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang termasuk salah satu dari 32 bangunan yang masuk dalam Cagar Budaya Kota Malang. Dalam buku ini bukan hanya membahas bagaimana perjalanan gedungnya, tapi bagaimana peran Bank Indonesia dimulai sejak De Javasche Bank Agenschap Malang hingga kini,” ungkap Agung Buana, sapaan akrabnya.
Disebutkannya, buku ini mengupas evolusi perekonomian dari seri publikasi sejarah dan heritage kantor perwakilan Bank Indonesia. Semua publikasi dalam seri buku ini menggunakan sudut pandang Bank Indonesia. Meskipun konteks lokalitasnya berbeda satu sama lain sesuai cakupan wilayah kerja dengan karakteristik dan keunikannya.
“Lingkup spasial pembahasan buku dipertahankan mencakup ketiga wilayah Malang Raya atau Kabupaten Malang pada masa kolonial,” imbuhnya.
Perkembangan dan dinamika historis lokal dipaparkan dengan mengungkap kondisi sebelum dan sesudah pendirian kantor De Javasche Bank/Bank Indonesia. Peran dan kontribusi yang diberikan dalam mendorong, memandu dan memfasilitasi para pelaku ekonomi dan pihak pemangku kepentingan. Khususnya terkait perkembangan perekonomian dan masyarakat di wilayah kerjanya, sehingga dapat dimengerti semua pihak secara lebih baik.
“Dari pembedahan buku ini, pembaca dapat belajar bagaimana sistem ekonomi dibentuk dan dicermati melalui perilaku ekonomi masyarakat. Seperti naik turunnya permintaan kredit yang pada akhirnya secara makro turut mempengaruhi perekonomian nasional,” tandasnya. (rhd)
Baca Juga:
QRIS Jelajah Indonesia Perluas Transaksi Digital UMKM di Jawa






