Rumah Budaya Ratna Jaga Literasi Berdampingan Perkembangan AI

Pemotongan tumpeng perayaan 2 tahun Rumah Budaya Ratna.
Pemotongan tumpeng perayaan 2 tahun Rumah Budaya Ratna. (ws15)

MALANG, HaloApaKabar.com – Rumah Budaya Ratna (RBR) di Kota Malang tetap menjaga tradisi literasi kemampuan manusia untuk membaca, berpikir, merasakan dan berkarya. Berdampingan dengan artificial intelligence (AI) sebagai bagian dari perkembangan zaman.

Pimpinan RBR, Benny Ibrahim mengabarkan, kemajuan teknologi dan kebudayaan tidak seharusnya ditempatkan sebagai dua hal yang saling bertentangan. Menurutnya, AI dapat menjadi ruang ekspresi baru, selama anak-anak tidak kehilangan proses membaca dan berpikir dalam menghasilkan karya.

“Kita tidak bisa menolak kemajuan teknologi. Ada media sosial, ada AI. Itu bisa menjadi ruang ekspresi baru,” kabar Benny, ditemui dalam gelaran Karsa Wacana bertema “Merdeka dalam Gagasan, Berakar dalam Budaya” di RBR, Jalan Diponegoro Nomor 3, Klojen, Kota Malang, Senin (24/8/2026) malam.

AI Alat Bantu, Bukan Hilangkan Kebiasaan Membaca dan Menulis

Menurut Benny, AI memang membuat proses menulis menjadi lebih mudah. Anak-anak dapat menggunakan teknologi tersebut untuk membantu menyusun berbagai jenis tulisan. Namun, kemudahan itu tidak boleh membuat mereka meninggalkan kebiasaan membaca dan kemampuan membangun gagasan sendiri.

“Boleh menulis pakai AI, tetapi tetap harus membaca karya orang lain dan menulis dengan arti sendiri,” katanya.

Benny menilai, manusia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki mesin, yakni pengalaman, perasaan, perspektif dan selera. Karena itu, AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti manusia dalam proses kreatif.

“AI itu robot. Manusia lebih kuat karena punya rasa dan taste sendiri,” ujarnya.

Prinsip tersebut juga diterapkan RBR dalam menghadapi kebiasaan anak-anak yang semakin lekat dengan gawai dan media sosial. RBR tidak berusaha menjauhkan anak dari teknologi, tetapi mencoba mengambil sebagian kecil perhatian mereka untuk kembali mengenal buku dan tulisan.

Pendekatan RBR Arahkan Anak Mengenal  Buku, Tulisan, Seni dan Kebudayaan

Benny menyebut, pendekatan itu sebagai upaya ‘mencuri’ sekitar dua persen perhatian anak dari derasnya arus digital. Dua persen tersebut diarahkan untuk mengenalkan mereka kepada buku, tulisan, seni dan kebudayaan.

“Kalau sehari-hari mereka 90 sampai 100 persen dengan multimedia, media sosial atau HP, kami hanya ingin mencuri sekitar dua persennya untuk mengenalkan mereka kepada tulisan,” katanya.

RBR sengaja menciptakan ruang yang tidak kaku. Anak-anak tidak diwajibkan membaca ketika datang. Mereka dapat mengerjakan tugas, membaca beberapa halaman buku, bermain gitar, menyanyi, membaca puisi atau sekadar berfoto.

Dari ruang yang bebas tersebut, RBR berharap, muncul ketertarikan terhadap literasi secara alami. Anak yang awalnya datang untuk bermain atau mengerjakan tugas diharapkan perlahan tertarik membuka buku, kemudian berani menulis dan menampilkan karyanya.

“Dengan banyak membaca, mereka akan bisa menulis. Itu bagian dari tujuan kami,” ujar Benny.

RBR Mengenang Ratna Indraswari Ibrahim

RBR berdiri pada 24 Agustus 2024 untuk mengenang sekaligus meneruskan warisan almarhumah Ratna Indraswari Ibrahim. Dalam dua tahun perjalanannya, RBR berkembang menjadi ruang literasi, seni dan ekspresi yang terbuka bagi berbagai kalangan.

Berbagai kegiatan digelar, mulai bedah buku, baca puisi, pameran, belajar menulis, membuat film hingga pertunjukan seni. Setiap Rabu terdapat Wednesday Room untuk kegiatan berbahasa Inggris, sedangkan setiap dua pekan digelar Kamisan dengan konsep open mic.

Melalui kegiatan tersebut, anak-anak diberi kesempatan tampil dan menemukan keberanian untuk mengekspresikan kemampuan mereka. Benny menyebut, sedikitnya empat hingga lima anak mulai menunjukkan kemampuan menulis cerpen dan puisi, bahkan beberapa di antaranya telah mengembangkan karya dalam bentuk novel.

Perkembangan Teknologi Tidak Otomatis Matikan Minat Literasi

Bagi Benny, proses tersebut menjadi bukti bahwa perkembangan teknologi tidak otomatis mematikan minat terhadap literasi. Tantangannya adalah bagaimana membuat teknologi dan kebudayaan dapat berjalan berdampingan.

“Kita harus sinergi. Kemajuan teknologi dan kebudayaan jangan ditentang. Biarkan mengalir bersama,” ujarnya.

Selama dua tahun, rata-rata sekitar 30 orang datang ke RBR setiap hari. Secara konservatif, Benny memperkirakan sekitar 900 pembaca berkunjung setiap bulan dengan total sekitar 20.700 pembaca sejak RBR berdiri.

Menurutnya, angka tersebut bukan sekadar data kunjungan. Setiap kedatangan menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk bertemu dengan buku, seni dan kebudayaan.

Semangat literasi yang dibangun RBR tidak dapat dipisahkan dari sosok Ratna Indraswari Ibrahim. Sastrawan kelahiran Malang tersebut semasa hidup menghasilkan sedikitnya 300 cerpen, selain novel, novelet, puisi, artikel dan esai.

RBR Gandeng Intrans Publishing Grup Terbitkan Kembali Karya Ratna Indraswari Ibrahim

Untuk menjaga agar karya Ratna tetap dibaca generasi baru, RBR bekerja sama dengan Intrans Publishing Grup Malang untuk menerbitkan kembali sejumlah karyanya.

Tiga karya telah diterbitkan kembali, yakni Bajunya Sini, Lemah Tanjung dan Pecinan, Suara Hati Sang Wanita Tionghoa. Pengurus RBR juga menemukan tiga karya yang belum pernah diterbitkan semasa hidup Ratna, yakni Fokus (1978), Sepanjang Hidup Ratih (1990), dan Seruni (1997).

Benny mengatakan, menjaga warisan Ratna bukan hanya menyimpan karya lama. Karya tersebut harus kembali dipertemukan dengan pembaca baru agar semangat membaca dan menulis terus tumbuh.

“Cita-cita Ibu Ratna adalah menghadirkan Ratna-Ratna baru. Bukan berarti harus menjadi Ratna seperti dirinya, tetapi melahirkan orang-orang baru yang bisa membaca dan menulis,” katanya.

RBR Bukan Sekadar Tempat Membaca

Pandangan bahwa RBR bukan sekadar tempat membaca mendapat penguatan dari perspektif psikologi. Psikolog Ade Laressa SPsi MPsi dari psikoday yang turut hadir memberikan apresiasi. Ade menilai, RBR memiliki nilai lebih, karena mampu menjadi ruang yang merangkul berbagai kelompok usia dan komunitas.

Menurutnya, anak-anak, generasi muda hingga lansia dapat merasa nyaman berada di RBR. Mereka tidak hanya datang untuk membaca, tetapi juga berinteraksi, berkarya dan membangun relasi dengan orang lain.

“Rumah Budaya Ratna ini sangat inspiratif. Tidak hanya sekadar rumah budaya, tetapi juga menjadi tempat berkumpul dan merangkul komunitas dari berbagai kalangan,” ujar Ade.

Ia menilai, keberadaan ruang seperti RBR memiliki keterkaitan dengan psikologi, karena psikologi pada dasarnya mempelajari perilaku manusia. Ketika literasi dipadukan dengan interaksi sosial, seni dan aktivitas kreatif, ruang tersebut dapat memberikan pengalaman yang lebih luas bagi masyarakat.

“Di dunia psikologi, selama ada manusianya, selama ada orangnya, pasti akan terkait dengan ilmu psikologi. Psikologi kan ilmu yang mempelajari perilaku manusia,” katanya.

Menurut Ade, hal tersebut semakin relevan di tengah meningkatnya kebutuhan edukasi mengenai kesehatan mental. Masyarakat membutuhkan ruang yang tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga memungkinkan mereka berinteraksi dan merasa diterima.

Karena itu, ia melihat konsep RBR dapat menjadi inspirasi. Rumah budaya tersebut mampu mempertemukan literasi, seni, komunitas dan interaksi lintas generasi dalam satu ruang.

“Saya belum menemukan banyak rumah budaya yang bisa merangkul berbagai kalangan seperti ini. Dukungan dari masyarakat juga banyak,” ujarnya.

Ade berharap konsep tersebut dapat berkembang dan menginspirasi daerah lain. Terlebih, warisan Ratna Indraswari Ibrahim memiliki nilai penting bagi Kota Malang dan dunia sastra Indonesia.

“Bu Ratna sangat berpengaruh, khususnya di Malang dan Indonesia. Beliau sudah dikenal secara nasional dan karya-karyanya luar biasa,” katanya. (ws15/rhd)

Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *