Batu, HaloApaKabar.com — Langkah strategis diambil Pemerintah Kota Batu dalam memperkuat sektor ekonomi kerakyatan. Wilayah ini secara resmi mendeklarasikan komitmennya untuk menjadi Kabupaten/Kota Kreatif (KaTa Kreatif) Indonesia ke-88, dengan menjadikan kuliner sebagai subsektor utama penggerak pembangunan daerah.
Pengukuhan tersebut ditandai lewat penandatanganan Berita Acara Hasil Uji Petik (BAHUP) serta komitmen bersama seluruh elemen Hexahelix. Agenda penting ini berlangsung di Balai Kota Among Tani, disaksikan langsung oleh Tim Penilai Nasional dari Kementerian Ekonomi Kreatif.
Pemilihan gastronomi di Kota Batu bukan sekadar berfokus pada penyediaan makanan semata. Lebih dari itu, gastronomi dipandang sebagai pintu gerbang strategis yang mengintegrasikan berbagai sektor penting, mulai dari pertanian, kebudayaan, pariwisata, hingga pendidikan dan pelestarian tradisi lokal, dengan Subsektor kuliner bertindak sebagai motor penggerak.
Wali Kota Batu, H. Nurochman SH MH menyampaikan bahwa pencapaian ini merupakan buah dari kolaborasi jangka panjang masyarakat bersama pemerintah. Pihaknya berencana menyusun peta jalan (roadmap) terpadu yang menyatukan sektor pertanian modern, pariwisata, hingga inovasi berbasis teknologi.
“Kota Kreatif dibangun oleh kolaborasi, bukan hanya pemerintah. Keberhasilan gastronomi ini juga sangat bergantung pada keberlanjutan sektor pertanian lokal,” kabar Nurochman.
Dukungan Nyata Pemkot Batu
Sebagai wujud dukungan nyata terhadap rantai pasok bahan baku, Pemkot Batu tengah menggenjot pengembangan kawasan Smart and Integrated Farming. Selain itu, kehadiran pusat kesenian (art center) lewat program Batu Artpreneur serta optimalisasi kawasan wisata sejarah Selecta diproyeksikan sebagai penopang infrastruktur kreatif daerah.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Fasilitasi Infrastruktur Kementerian Ekonomi Kreatif, Dr. Fahmi Amrin, mengapresiasi kesiapan ekosistem kreatif di Kota Batu. Menurutnya, penilaian
“PMK3I tidak hanya melihat produk akhir, melainkan kekuatan kolaborasi, kepemimpinan, serta kesinambungan rantai nilai di lapangan,” sebutnya.
Dari sisi komunitas, Koordinator Batu Creative Hub, Alan W. Hafiludin, menyambut baik momentum ini. Ia menegaskan bahwa ruang kreatif yang ada akan terus dioptimalkan sebagai wadah pertemuan ide antarkomunitas, pelaku usaha, akademisi, hingga investor.
Sementara itu, Ketua Komisi Pelaksana Komite Ekonomi Kreatif Kota Batu, Muhammad Anwar, menambahkan bahwa gastronomi dipilih karena kemampuannya dalam merangkum seluruh potensi lokal. Subsektor ini menarik delapan subsektor prioritas lainnya, yaitu Seni Pertunjukan. Desain Produk, Seni Rupa, Arsitektur Lanskap. Film, Video, dan Animasi, Fotografi, Televisi dan Radio dan Konten Digital.
“Gastronomi dimulai dari petani, diolah, didesain, dikemas dalam bentuk cerita, hingga dipromosikan lewat konten digital. Ini adalah lokomotif pembangunan ekonomi kreatif kita,” jelas Anwar.
Deklarasi ini ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama oleh seluruh unsur Hexahelix meliputi unsur pemerintah, akademisi, pelaku usaha, media, komunitas, hingga lembaga keuangan. Dengan resmi menyandang status sebagai Kota Kreatif Indonesia ke-88, Kota Batu kini memiliki fondasi yang semakin kokoh untuk memperluas jangkauan pasar, meningkatkan daya saing. Serta memantapkan langkah menuju kancah internasional melalui jejaring UNESCO Creative Cities Network (UCCN) di bidang Gastronomi. (dik)





