Batu, HaloApaKabar.com — Pemerintah Kota Batu melalui Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) mematangkan langkah untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif berkelanjutan. Strategi tersebut ditempuh dengan mengintegrasikan kekuatan sektor pertanian di hulu dan pariwisata di hilir Kota Batu melalui penyusunan Kajian Kelayakan Kota Kreatif Gastronomi.
Hal ini dibahas dalam Forum Group Discussion (FGD) bertajuk “Lintas Masa Gastronomi Daerah Batu” yang berlangsung di Rumah Kemasan PLUT KUMKM Agrokreatif, Jumat (9/10/2026). Forum tersebut menegaskan bahwa identitas gastronomi Kota Batu tidak sekadar diukur dari keberadaan makanan khas. Melainkan dari rekam jejak peradaban, kondisi ekologis, serta dinamika akulturasi budaya yang terjadi dari masa ke masa.
Sejarawan Dr. Drs. M. Dwi Cahyono, M.Hum., menyampaikan bahwa pembacaan gastronomi Kota Batu harus berlandaskan empat konteks utama yakni ekologis, sosial, budaya, dan wisata. Menurutnya, potensi pertanian yang kuat di ranah hulu butuh dirajut secara kreatif agar mampu memberikan nilai tambah saat ditemui wisatawan di ranah hilir.
“Gastronomi tidak cukup dipahami sebatas keberadaan makanan dan minuman. Pengembangannya perlu dimulai dari menggali sejarah, memetakan rantai nilai, serta memahami keterkaitan antara lingkungan. Kehidupan sosial, kebudayaan, dan aktivitas pariwisata,” kabar akademisi UM tersebut.
Soto Lamongan hingga Gado-gado: Jejak Akulturasi di Dapur Batu
Sisi menarik lain dari karakter kuliner Kota Batu juga diungkapkan oleh akademisi Antropologi Universitas Brawijaya sekaligus anggota tim penyusun kajian, Ary Budiyanto, S.S., M.A. Menurut Ary, lanskap gastronomi Kota Batu terbentuk secara dinamis melalui interaksi sosial dan mobilitas masyarakat pendatang, salah satunya pengaruh masyarakat Lamongan. Mereka dulu membawa hidangan seperti soto Lamongan hingga gado-gado dengan bumbu siram hangat ke dalam konsumsi harian warga setempat.
“Identitas gastronomi tidak selalu lahir dari satu tradisi yang berdiri sendiri, melainkan berkembang melalui perjumpaan budaya, adaptasi bahan pangan, dan kebiasaan makan yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari,” terang Ary.
Ruang Kreatif yang Menghubungkan Petani dan Wisatawan
Ruang penghubung antara pertanian dan pariwisaata inilah yang menjadi peran vital ekonomi kreatif. Melalui penguatan narasi sejarah, pengemasan pengalaman kuliner, serta inovasi produk, potensi lokal Kota Batu dinilai berpeluang besar untuk menjadi daya tarik wisata baru yang memperkuat identitas daerah. Guna menyusun dokumen kajian yang komprehensif, Diskoperindag Kota Batu melibatkan lintas pemangku kepentingan (hexahelix).
“Kami melibatkan jajaran dinas teknis, Komite Ekonomi Kreatif, akademisi SMKN, komunitas Batu Creative Hub, pelaku seni, Pokdarwis, asosiasi pramuwisata, hingga insan pers diharapkan mampu memetakan rantai nilai kuliner daerah secara utuh,” imbuh Ketua Ekonomi Agro kreatif Batu, Muhammad Anwar selaku moderator.
Ia juga menambahkan tujuan FGD ini memang untuk mengulik dan mengulas kekhasan, kekhususan tentang gastronomi di Kota Batu. Batu ini lagi bersiap-siap menuju Kota Kreatif Gastronomi di tingkat dunia. Secara nasional, kita sudah berkomitmen menjadi Kota Kreatif Kuliner, tapi di level dunia sebutannya adalah gastronomi.” pungkas Cak Anwar sapaannya. (dik)






