Dari Tukang Kebun Hingga Arsitek Desa Wisata: Kisah Perjuangan Heri Mujiono Angkat Potensi Ampelgading Malang

Heri Mujiono saat mengajak wisatawan asing untuk panen buah kopi. (dok.pribadi)
Heri Mujiono saat menjelaskan makna Nasi Tumpeng kepada para wisatawan mancanegara di Desa Wisata Ampelgading Malang (dok.pribadi)

Malang, HaloApaKabar.com — Membangun sebuah destinasi wisata kelas dunia dari nol bukanlah perkara mudah. Butuh ketekunan, pengalaman lintas sektor, serta mental baja untuk menghadapi berbagai penolakan sosial.

Inilah jalur terjal yang ditempuh oleh Heri Mujiono, seorang inisiator yang mendedikasikan hidupnya untuk mengangkat potensi tersembunyi Desa Ampelgading, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang.

Kisah Sukses Ini Bukanlah Instan​

Akumulasi perjalanan karier penuh liku selama 37 tahun yang berakar dari kecintaannya pada dunia pertanian dan pariwisata.

​Kisah Heri bermula pada tahun 1988 sebagai lulusan Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Negeri Tanjung Malang. Setengah tahun berselang, ia mendapat kepercayaan mengajar di SPMA Ampelgading, Tirtoyudo (1989). Tak lama berselang, ia beralih jalur meniti karier di perusahaan perkebunan milik pemerintah.

​Tak tanggung-tanggung, ia pernah diterjunkan langsung di pabrik pengolahan kakao, karet, dan kopi di Glenmore, Banyuwangi. Di tengah situasi pelosok yang keras dan pekerjaan berat inilah takdir mempertemukannya dengan celah karier yang jarang dilirik orang, yakni pariwisata perkebunan. ​Saat pemerintah mencanangkan Visit Indonesia Years pertama pada 1991, tempat kerjanya di PTP 26 difungsikan sebagai atraksi wisata.

Menjadi Satu-satunya Karyawan yang Fasih Berbahasa Inggris

Manajer mempercayakannya sebagai pemandu lokal sambilan. ​Guna mendalami bidang tersebut, ia mengambil diklat pramuwisata khusus dan tercatat sebagai guide agrowisata berlisensi pertama dari pelatihan Provinsi Jawa Timur. Demi impiannya menjadi pemandu profesional, ia bahkan rela bekerja sebagai tukang kebun di Hotel Margo Utomo, Banyuwangi, tempat di mana banyak wisatawan asing singgah.

​Sebuah momen tak terduga terjadi ketika seorang tour leader terkejut mendapati tukang kebun hotel yang mengantarkannya ke Taman Nasional Meru Betiri ternyata mengantongi lisensi resmi berlogo burung cendrawasih. Pertemuan tersebut mengubah jalan hidupnya, menyadarkannya bahwa potensinya jauh lebih besar dari sekadar memegang cangkul di kebun. ​Berkat rekomendasi relasi hotel tersebut, Heri diangkat sebagai karyawan di biro perjalanan wisata PT Equatorial Jade di Bogor.

Keinginannya untuk terus berkembang hingga membawanya kembali ke tanah kelahiran untuk bergabung dengan PT Alfaria Romeo Tours & Travel. Di masa itu, ia bahkan ikut serta dalam tim perintis pengembangan wisata arung jeram pertama di Sungai Pekalen, Probolinggo. ​Setelah malang melintang di PT Tanjung Permai Tours & Travel Malang hingga 2011, ia beralih peran menjadi dosen, freelance guide trainer di lembaga internasional ILO, serta dipercaya sebagai asesor dan trainer pendamping Kawasan Bromo selama dua tahun.

“Dari pengalaman inilah, menjadi modal kami untuk dapat mendirikan Desa Wisata Ampelgading,” Kabarnya.

Ketika Proyek di Bromo Rampung

​Heri bertekad mengimplementasikan seluruh ilmunya untuk membangun desa wisata. Pemilihan Desa Ampelgading didasari oleh memori masa lalunya saat mengajar pada tahun 1989. Di mana ia melihat potensi jalur wisata wisatawan Belanda yang transit menuju Air Terjun Tumpak Sewu.

​Namun, jalan terjal harus dihadapi. Niat awal mendirikan desa wisata di tempat tinggalnya sendiri di Kecamatan Pakis justru mendapat penolakan. Berkat bantuan seorang sahabat lokal, ia melirik kembali Desa Ampelgading, Kecamatan Tirtoyudo.

​”Gagasan yang kami disampaikan pada tahun 2013 sempat ditolak mentah-mentah oleh masyarakat maupun pemerintah desa setempat,” ungkap Pram Heri sapaannya.

Tidak patah arang, Heri membuktikan efektivitas pariwisata dengan membawa langsung wisatawan asing secara mandiri selama tiga tahun berturut-turut dari 2013–2016. ​Bukti nyata kunjungan wisatawan mancanegara ini pun akhirnya meluluhkan hati warga. Pada tahun 2016, dengan dukungan Dinas Pariwisata Kabupaten Malang, terbentuklah lembaga POKDARWIS dan LADESTA.

“Desa Wisata Ampelgading menjelma menjadi destinasi unggulan yang menerapkan konsep Community Based Tourism (CBT). Pengelolaannya mengandalkan kearifan lokal (local wisdom) yang dikemas dalam bentuk ethno-tourism dan immersion tourism. Kami  mengajak wisatawan belajar secara mendalam melalui pendekatan storytelling dan storynomics,” terangnya.

Heri Mujiono saat mengajak wisatawan asing untuk panen buah kopi. (dok.pribadi)
Heri Mujiono saat mengajak wisatawan asing untuk panen buah kopi. (dok.pribadi)

Saat Berkunjung ke Desa Wisata Ampelgading​

Wisatawan akan disambut tarian lokal interaktif bersama warga dan jamuan kuliner makanan dan minuman tradisional. Selanjutnya wisatawan akan diajak berkunjung ke vihara buddha untuk mempelajari perjalanan filosofis Buddhis. Untuk melengkapi pengalaman wisata di Ampelgading itu, dirinya menambahman Agrowisata Edukatif dengan mengajak wisatawan belajar sejarah dan budidaya tanaman kopi, kakao, serta buah salak.

“Tidak ketinggalan kami memberikan pengalaman Gastronomy dalam bentuk makan siang nasi tumpeng dan Cooking Class membuat kue apem, hingga kerajinan menganyam janur/ketupat,” imbuhnya.

​Heri juga menambahkan, di Desa Wisata Ampelgading ia juga menjalankan fungsi sosial yang mulia. Yakni membuka pintu seluas-luasnya bagi mahasiswa pariwisata untuk belajar secara gratis mendampingi kunjungan wisatawan sebagai Local Tour Guide. Tercatat sudah banyak grup wisata dari luar negeri yang berkunjung ke Desa Wisata Ampelgading ini, terutama dari Italia sebagai pengunjung terbanyak.

“Disusul Belanda, Prancis, Malaysia, Singapura, Australia, Selandia Baru, Kanada, Myanmar, dan Filipina,” tutupnya. (dik)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *