Tiga Dekade Mengawal Identitas Kriya Lokal: Perjalanan Batik Olive Kota Batu Sejak 1995

Maestro Batik Khas Kota Batu, H. Iwan Airawan, SE, Owner Batik Olive.
Maestro Batik Khas Kota Batu, H. Iwan Airawan, SE, Owner Batik Olive. (ist)

Batu, HaloApaKabar.com — Membicarakan dunia kriya di Kota Batu, Jawa Timur, tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang sebuah ikon kebanggaan lokal yang telah berdiri sejak tiga dekade lalu bernama Batik Olive. Dirintis oleh maestro batik H. Iwan Airawan, SE. sejak tahun 1995, eksistensi Batik Olive telah lama menjadi pilar penting yang membentuk karakter dan identitas busana khas Kota Batu hingga menembus panggung nasional.

Inovasi Motif Batik Tulis dan Bordir Halus

Jejak langkah Batik Olive berawal dari kecintaan mendalam terhadap seni membatik yang mulai ditanamkan Iwan pada tahun 1995. Pada masa-masa awal tersebut, usaha ini dibangun secara sederhana dari skala rumahan. ​Berkat ketekunan, konsistensi, dan kerja keras yang tak kenal lelah, fondasi usaha ini terus menguat hingga akhirnya mendapatkan legalitas resmi pada tahun 2000.

Sejak momentum tersebut, nama Batik Olive semakin berkibar dan melekat kuat sebagai representasi autentik dari perkembangan seni batik di Kota Batu, bertahan melintasi berbagai fase perubahan zaman. ​Konsistensi Batik Olive selama puluhan tahun bukan tanpa alasan, Sang maestro menyadari bahwa untuk terus hidup di tengah masyarakat modern, sebuah tradisi harus berani berinovasi tanpa kehilangan akar budayanya.

“Kami mencoba menghadirkan inovasi berupa kombinasi motif batik tulis tradisional dengan detail bordir halus,” kata Iwan sang Maestro batik Kota Batu.

Iwan mengakui, ​kombinasi artistik inilah yang menjadi daya pikat utama serta ciri khas pembeda Batik Olive dengan produk lainnya. Hal ini juga membuat produk Batik Olive senantiasa dicari dan diterima dengan baik oleh konsumen di seluruh penjuru Indonesia. Konsistensi panjang yang dimulai sejak 1995 itu akhirnya berbuah manis dan mendapat pengakuan tertinggi dari negara.

Raih Penghargaan Upakarti dari Presiden SBY

“Pada tahun 2009, alhamdulillah kami dianugerahi penghargaan Upakarti oleh Presiden Republik Indonesia kala itu, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Ini sebagai bentuk apresiasi sebagai pelestari budaya dari Presiden SBY waktu itu,” kenang Iwan.

Sebagai ikon batik yang telah mengakar kuat di Kota Batu, Batik Olive tidak hanya unggul dari segi estetika busana, tetapi juga konsisten menjaga kelestarian lingkungan. Rumah produksi ini menerapkan pengelolaan limbah yang bijak. Sisa malam produksi dikumpulkan dan diproses ulang untuk dapat digunakan kembali. Begitu pula dengan sisa potongan kain disulap secara kreatif menjadi aneka kerajinan tangan (handmade) bernilai ekonomi tinggi.

“Dari kain batik perca kami olah lagi menjadi produk asesoris seperti kalung, tas, hingga dompet,” terangnya.

Aktif di Pameran Nasional dan Misi Dagang

Hingga kini, rumah produksi sekaligus galeri yang berlokasi di Jalan Terusan Agus Salim Gang Pesantren 2 Nomor 5i, Kelurahan Temas, Kota Batu masih terus menjadi jujukan pembeli dari berbagai kalangan. Bahkan, tempat ini telah bertransformasi menjadi pusat edukasi tempat pelajar, mahasiswa, korporasi, hingga turis mancanegara belajar langsung seni membatik.

“Kami juga sering diajak dalam ajang pameran tingkat nasional di berbagai daerah, termasuk di Ibukota Jakarta. Belum lama ini pada Event misi dagang Provinsi Jatim di Medan, dan Pameran produk unggulan binaan BI,” imbuhnya.

Pada momen Hari Batik Nasional 2026 ini, Iwan berharap, keberadaan Batik Olive menjadi inspirasi bagaimana tradisi, inovasi modern, dan kepedulian lingkungan dapat berjalan beriringan dalam memajukan kriya nusantara.

“Selamat Hari Batik,” pungkas Iwan menutup kisahnya. (dik)

Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *