Malang, HaloApaKabar.com – Universitas Ma Chung kembali menghadirkan Chinese–Indonesian Festival (CHIFEST) 2026 sebagai ruang harmoni perjumpaan budaya warisan Tionghoa dan kekayaan budaya Indonesia tiap tahun. Mengusung tema ‘Fostering Transformative Convergence: Chinese Indonesian Cultural Harmony,’ CHIFEST 2026 mengajak masyarakat mengenal budaya antarkultur melahirkan makna transformatif keberagaman.
Rektor Universitas Ma Chung, Prof Dr Ir Stefanus Yufra Menahen Taneo MS MSc menyampaikan, CHIFEST merupakan, upaya Universitas Ma Chung menghadirkan pendidikan, pemahaman dan penghargaan terhadap keberagaman.
“Melalui CHIFEST, kami ingin menunjukkan, ketika budaya yang berbeda bertemu dengan keterbukaan dan saling menghargai, perjumpaan tersebut menghasilkan transformasi positif. Harmoni budaya bukan hanya tentang hidup berdampingan, tetapi tentang bagaimana kita belajar dari satu sama lain dan bersama-sama menciptakan nilai baru bagi masyarakat,” seru Prof Yufra, sapaan akrabnya, dalam CHIFEST 2026, Sabtu-Minggu (19-20/9/2026)
Keberagaman Budaya Akulturasi Seni, Bahasa, Kuliner, Arsitektur, Tradisi, Kehidupan Sosial
Disebutkannya, tema ‘Fostering Transformative Convergence: Chinese Indonesian Cultural Harmony’ merefleksikan gagasan budaya bukan statis dan terpisah. Dalam perjalanan sejarah Indonesia, budaya Tionghoa telah berinteraksi dengan berbagai tradisi lokal. Dimana menciptakan bentuk-bentuk akulturasi dalam seni, bahasa, kuliner, arsitektur, tradisi, hingga kehidupan sosial masyarakat.
“CHIFEST menjadi wadah merayakan proses tersebut. Sekaligus membuka dialog mengenai bagaimana keberagaman dapat menjadi kekuatan membangun masa depan bersama,” imbuhnya.
Animo Masyarakat Tionghoa, Masyarakat Sekitar dan Nasional pada CHIFEST 2026
Ketua Panitia, Mustika Tarra ST MM mengatakan, dibandingkan Chifest sebelumnya, kali ini menggabungkan semua konsep dalam satu tema. Semangat tersebut diwujudkan melalui berbagai program yang memungkinkan pengunjung mengalami budaya secara langsung.
“Seperti Wayang Potehi kami highlight di depan panggung, di Chinese Corner kami hadirkan para laoshi dari China. Sekaligus Chifest 2026 dibuka oleh Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (Konjen RRT) di Surabaya, Bapak Ye Su, sembari membagikan beasiswa Rp25 juta,” ucap Tarra, sapaan akrab Kepala Kantor Kerjasama Urusan Internasional Universitas Ma Chung ini.
Ditambahkan Tarra, animo masyarakat cukup tinggi selama dua hari, seperti komunitas Tionghoa di Malang dan Jatim serta masyarakat umum. Terlihat pula dari kupon undian sangat banyak, dimana setiap pembelanjaan di tenan Rp50 ribu dan kelipatannya mendapatkan kupon undian dengan hadiah utama sepeda listrik.
‘Konsep kupon undian baru kami adakan tahun ini, ternyata animonya cukup tinggi dengan banyak kupon undian yang terkumpul. Selain itu, ada pembagian kacamata gratis, cek kesehatan gratis dan donor darah, biasanya di Rampal, kami satukan di sini,” imbuh Dosen Program Studi Manajemen ini.
Beragam Pertunjukan Mulai Panggung Utama, Hiburan, Permainan Hingga Bazar
Sebagai informasi, panggung utama menghadirkan beragam pertunjukan, di antaranya:
- musik tradisional Tionghoa,
- Wushu,
- tarian tradisional Tiongkok,
- tarian modern dari UKM Dance dan SMA Kristen Kalam Kudus,
- band,
- paduan suara, baik dari paduan suara Universitas Ma Chung maupun Paduan Suara SMAK Kolese St. Yusuf,
- penampilan pemenang kompetisi menyanyi lagu Mandarin,
- pertunjukan dari sekolah mitra.
- Penyanyi muda asal Malang, Letisha.
Pada ruang terbuka di area sekitar Rektorat menghadirkan:
- Barongsai,
- Leang-leong, dan
- Wayang Potehi yang membawa warisan budaya lebih dekat dengan pengunjung.
Dari sisi kuliner, Bazaar Kuliner CHIFEST menghadirkan beragam makanan Indonesia, Tionghoa, dan Peranakan. Baik halal maupun non-halal yang mencerminkan perjalanan akulturasi budaya dalam kehidupan sehari-hari. Area kuliner akan dibagi secara jelas antara tenant halal dan non-halal untuk memberikan kenyamanan bagi seluruh pengunjung.
Sementara itu, Chinese Corner menawarkan pengalaman interaktif melalui Mahjong, Shufa atau kaligrafi Tionghoa, Paper Cutting, Chinese Knot, dan menghias lampion. Pengunjung dapat membawa pulang kerajinan tangan yang dibuat dalam kegiatan Chinese Corner.
“Berbagai kompetisi turut melengkapi festival, mulai dari lomba menyanyi lagu Mandarin, cerdas cermat, video pendek, mewarnai dan mengurutkan angka Mandarin, hingga Tingxue (听写),” terang Tarra.
CHIFEST 2026 Hadirkan Keberagaman Budaya hingga Mini Museum Ma Chung
Wakil Rektor III bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, Wawan Eko Yulianto PhD menekankan, pentingnya menghadirkan budaya melalui pengalaman dekat dengan masyarakat, terutama generasi muda. Convergence menjadi penting, karena budaya berkembang melalui perjumpaan.
“CHIFEST memberikan ruang bagi generasi muda untuk melihat bahwa budaya Tionghoa dan Indonesia bukan dua dunia yang berdiri sendiri. Keduanya telah berinteraksi dan saling memperkaya selama bertahun-tahun. Kami ingin generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut mengalami, memahami dan meneruskan harmoni tersebut,” terang Wawan, sapaan akrabnya.
CHIFEST 2026 menghadirkan Mini Museum Ma Chung, mengajak pengunjung menelusuri kontribusi komunitas Tionghoa dalam perjalanan pendidikan Kota Malang. Mini Museum menghadirkan perjalanan Universitas Ma Chung sejak 1946. Dengan mengangkat filosofi 饮水思源 (Yǐn shuǐ sī yuán) —“ketika minum air, ingatlah sumbernya”— sebagai refleksi mengenai pentingnya menghargai sejarah dan para pendahulu.
“Melalui CHIFEST 2026, Universitas Ma Chung berharap, festival ini dapat menjadi ruang yang mempertemukan heritage, education, creativity, and community. Sekaligus mendorong pemahaman keberagaman budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan energi menciptakan perubahan dan membangun harmoni di masa depan,” pungkasnya. (rhd)






