Malang, HaloApaKabar.com – Guru Besar UB, Prof Dr Eng Chomsin Sulistya Widodo SSi MSi PhD dan Ketua IKA FSTem UB, Yudiono SSi bagikan tips ubah mindset dalam berkarir. Tips yang dibagikan merupakan pengalaman pribadi, latar belakang, cara mengubah mindset dan pilihan yang diambil, hingga pada posisi sukses saat ini.
Guru Besar FSTeM UB Prof Dr Eng Chomsin Sulistya Widodo
Guru Besar Bidang Ilmu Fisika Medis dan Radiologi Departemen Fisika FSTeM UB, Prof Dr Eng Chomsin Sulistya Widodo SSi MSi PhD menceritakan, pengalaman saat kuliah. Dikenal sebagai aktivis mahasiswa, dirinya lebih banyak izin kegiatan di luar ruangan kelas, sehingga tak ayal dirinya mendapatkan IPK 2,4.
“Ketika mendapatkan IPK 2,4, ada banyak pertanyaan, bagaimana saya bisa mempertanggungjawabkan kepada orang tua, bagaimana nanti bisa mendapatkan pekerjaan. Akhirnya saya memperbaiki semua nilai yang kurang selama 2 tahun, itu pengorbanan sekaligus tanggung jawab saya,” seru Prof Chomsin, sapaan akrabnya.
Berani: Kunci Sukses dari Mahasiswa hingga Dunia Kerja
Penerima beasiswa Supersemar ini menyebut, kunci mahasiswa sukses baik selama kuliah hingga lulus langsung bekerja, yaitu berani. Seperti berani menyampaikan, berani mengeksplorasi kemampuan, hingga berani menyampaikan ide-ide yang brilian. Tentunya, selain bekal akademis, juga memiliki komunikasi dan adab yang baik.
“Seringkali kita temui generasi alpha memiliki nilai akademik cukup baik atau tinggi, namun dalam berkomunikasi dan adab masih kurang. Mereka lebih senang menggunakan pesan WhatsApp dengan pilihan diksi yang kurang pas, daripada berani telpon atau komunikasi langsung. Meski sebenarnya mereka menyadari kekurangannya, hanya karena tidak ada yang mengajari harus bagaimana komunikasi yang baik dan tepat,” terang alumni mahasiswa angkatan ke-3 prodi Fisika FMIPA UB ini.
Doa Restu Orang Tua yang Sakti
Diceritakan, sebelum masuk kuliah, selama kuliah hingga lulus, bayang-bayang latar belakang keluarga masih erat mempengaruhi. Bahkan dirinya pernah memiliki pengalaman bisnis berjualan beras dengan keuntungan berkali-kali lipat, namun langsung dihentikan di tengah jalan karena orang tua kurang setuju.
“Doa restu orang tua saya yakini itu sakti dan mustajab, karena ayah saya bilang kalau kerja jangan susah, saya berhenti usaha saat itu. Kalau dipikir-pikir saya jadi dosen dan sukses itu juga karena manut tidak durhaka dan maksimal menjalaninya,” ungkapnya.
Fisika Medis: Pencapaian Karir Terbesar
Prof Chomsin mengaku, menjadi Guru Besar Bidang Ilmu Fisika Medis dan Radiologi Departemen Fisika UB, merupakan pencapaian karir terbesarnya. Pasalnya, menjadi fisikawan medis berperan penting dalam sistem pelayanan kesehatan modern agar aman, akurat, dan sesuai standar. Dengan memastikan mutu layanan dan menjamin keselamatan pasien, tenaga kesehatan dan masyarakat dari paparan radiasi.
“Dosis radiasi yang diterima pasien harus sesuai kebutuhan terapi, sementara orang yang sehat tidak boleh terkena paparan radiasi, sehingga keselamatan terhadap radiasi menjadi poin paling penting,” tegas Prof. Chomsin, .
Ketua IKA FSTem UB, Yudiono SSi
Ketua IKA FSTem UB, Yudiono SSi memiliki cerita tersendiri ketika masuk di jurusan Kimia FMIPA UB, saat lolos tes pilihan kedua masuk PTN tahun 1991. Pria asal Wlingi Blitar ini mengaku, diriny merasa bersyukur berkesempatan menempuh bangku kuliah di UB.
“Dari kecil hingga SMA saya besar di pegunungan, makanya saya ambil kesempatan kuliah di PTN tersebut. Karena remaja di desa saya, masih sedikit yang bisa kuliah bahkan jadi sarjana di PTN maupun PTS,” ungkap Yudi.
Dengan latar belakang sebagian besar keluarga besar berprofesi guru, dirinya termotivasi untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Agar bisa menjadi sarjana dan menjadi guru untuk mengajar di desanya.
“Optimisme saya memaksimalkan potensi di jurusan Kimia, karena hampir semua hal/benda di ruangan dan luar ruangan, saat ini terkait dengan kimia. Mulai minum, baju, dll, semua mengandung kimia dengan manfaat lebih luas,” kilasnya.
Pilih Kerja di Perusahaan Ketimbang Jadi Dosen
Di sisi lain, peluang karier lulusan Kimia UB sangat luas, karena kompetensi ilmu kimia dibutuhkan di hampir seluruh sektor industri. Bahkan dirinya berpikir realistis ketika mendapatkan peluang bekerja lebih dulu di salah satu perusahaan, dibandingkan harus mengejar cita-cita sebagai guru maupun dosen.
“Waktu itu saya sedang mengikuti ujian menjadi dosen di salah satu PTN di Solo, tiba-tiba mendapatkan pengumuman diterima kerja pada perusahaan di Sidoarjo. Saya berpikir realistis, karena realita kebutuhan yang pasti, maka saya memilih bekerja di perusahaan tersebut,” kilas pria yang kini bekerja di PT Crossfield Indonesia, produsen silika di kawasan PIER Rembang, Kabupaten Pasuruan.
Peluang Lulusan Kimia yang Sangat Luas
Disebutkannya, lulusan kimia tidak hanya berkarier di industri kimia, karena hampir semua sektor membutuhkan kompetensi dari ilmu kimia. Seperti industri pangan, pertanian, peternakan, manufaktur, hingga industri berbasis material membutuhkan tenaga profesional yang paham karakteristik bahan. Mulai proses produksi hingga pengendalian mutu.
“Industri pengolahan makanan, cat, ban, furnitur, dan berbagai sektor manufaktur terus membuka peluang bagi lulusan Kimia dengan kompetensi sesuai kebutuhan industri. Melalui alumni yang memiliki pengalaman langsung di dunia kerja, kami bagikan agar mahasiswa memahami profesi yang akan mereka tekuni,” terangnya.
Kebiasaan Analitis Jadi Bekal di Dunia Kerja
Menurutnya, kebiasaan mahasiswa kimia terbiasa menganalisa apapun yang akan dikerjakan dalam suatu project. Maka akan lebih memudahkan lulusan kimia dalam proses apapun, baik selaras maupun berbeda.
“Karena orang analis itu terbiasa menganalisa apa dan bagaimana karakteristik hal yang diteliti hingga menghasilkan data. Sehingga hal apapun bisa dianalisa, disampaikan dan dijabarkan karakternya sesuai nilai-nilai yang dimiliki,” tandasnya. (rhd)




